Rabu, 27 Mei 2015



PARTISIPASI MASYARAKAT DALAM PENGELOLAAN SAMPAH DI KOTA MATARAM
1.      PENDAHULUAN
1.1.Latar Belakang
Kota Mataram merupakan salah satu daerah tujuan wisatawan, dan salah satu tujuan masyarakat untuk menempuh pendidikan baik perguruan tinggi maupun sekolah yang sederajat, sehingga menjadi salah satu daerah tujuan bagi para pencari kerja dan siswa yang berdampak terhadap perkembangan jumlah penduduk. Meningkatnya jumlah penduduk pendatang dan aktivitas yang dilakukan untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi akan berpengaruh terhadap meningkatnya volume sampah. Apabila masalah ini tidak dilakukan perubahan dalam penanganannya, baik teknis maupun kebijakan politis. Dalam waktu dekat diprediksi dapat mengakibatkan terjadinya pencemaran lingkungan yang cukup signifikan di seluruh wilayah, baik langsung maupun secara tidak langsung.
Bila masalah sampah ini tidak mendapat perlakuan penanganan yang baik sebagaimana mestinya jelas akan berdampak terhadap pencemaran lingkungan serta berkurangnya nilai estetika. Hal ini terjadi akibat belum dimilikinya rasa tanggung jawab serta masih sangat rendahnya pemahaman masyarakat terhadap manfaat kebersihan. Partisipasi masyarakat dalam pengelolaan sampah sangat tergantung kepada pemahaman dan kemauan masyarakat untuk menjaga dan menciptakan lingkungan bersih. Disamping itu, kemampuan masyarakat berkontribusi dalam pengelolaan sampah juga akan sangat tergantung kepada pendapatan masyarakat, khususnya masyarakat Di Kota Mataram.
Pengelolaan sampah khususnya di kota-kota  merupakan salah satu kebutuhan pelayanan yang sangat penting dan perlu disediakan pemerintah. Jumlah penduduk kota yang relatif besar dengan kepadatan tinggi akan menghasillkan timbulan sampah yang besar yang harus ditanggulangi baik untuk kebersihan maupun pelestarian lingkungan hidup, Volume sampah akan meningkat dengan adanya pertambahan jumlah penduduk dan peningkatan teknologi dan aktivitas sosial ekonomi masyarakat (Slamet, 1994).
Pertambahan jumlah penduduk di perkotaan yang pesat berdampak terhadap peningkatan jumlah sampah yang di hasilkan. Peningkatan jumlah sampah yang tidak diikuti oleh perbaikan dan peningkatan sarana dan prasarana pengelolaan sampah mengakibatkan permasalahan sampah menjadi komplek, antara lain sampah tidak terangkut dan terjadi pembuangan sampah liar, sehingga dapat menimbulkan berbagai penyakit, kota kotor, bau tidak sedap, mengurangi daya tampung sungai dan lain-lain.
1.2  Rumusan Masalah
Rumusan masalah dari penelitian ini adalah sebagai berikut:
1.      Bagaimana Konstribusi Masyarakat Kota Mataram Dalam Pengelolaan Sampah Di Kota Mataram ?
2.      Bagaimana Kesadaran Dan Kemauan, Masyarakat dalam Pengelolaan Sampah di Kota Mataram ?



1.3   Tujuan Penelitian
1.      Untuk Mengetahui Konstribusi Masyarakat Kota Mataram Terhadap Pengelolaan Sampah Di Kota Mataram.
2.      Untuk Mengetahui Bagaimana Kesadaran Dan Kemauan Masyarakat Dalam Pengelolaan Sampah Di Kota Mataram..
1.4   Manfaat Penelitian
1.4.1        Manfaat Teoritis
Dapat dijadikan sebagai referensi dalam pengembangan ilmu pengetahuan terkait persoalan partisipasi pengelolaan sampah maupun menjadi referensi bagi peneliti yang ingin meneliti permasalahan yang sama.
1.4.2        Manfaat Praktis 
1.      Memberikan informasi bagi masyarakat mengenai partisipasi masyarakat terhadap pengelolaan sampah di Kota Mataram, serta turu ikut serta dalam mengurangi masalah samapah di kota Mataram.
2.      Diperolehnya data mengenai  pemahaman, kemauan, dan pendapatan masyarakat secara simultan berpengaruh signifikan terhadap partisipasi masyarakat
3.      Memberikan masukan bagi kebijakan pemerintah dalam mengurangi sampah di perkotaan khususnya kota Mataram dan masyarakat diharapkan lebih memahami dan ikut berpartisipasi dalam mengelola sampah




2. LANDASAN TEORI
2.1. Kajian Pustaka
A.      Pengertian Sampah
            Menurut Departemen Pekerjaan Umum sampah adalah limbah yang bersifat padat, yang terdiri dari zat organik dan zat anorganik, yang dianggap tidak berguna lagi dan harus dikelola agar tidak membahayakan lingkungan dan melindungi investasi pembangunan. Menurut Hakim,dkk.(2006: 1) sampah selalu identik dengan barang sisa atau hasil buangan tak berharga. Meski setiap hari manusia selalu menghasilkan sampah, manusia pula yang paling menghindari sampah.
Pengelolaan Sampah Dalam kehidupan sehari-hari, manusia selalu bersentuhan dengan sampah terutama sekali sampah rumah tangga. Kastaman dan Kramadibrata (2007:11) mengungkapkan, dalam kegiatan kehidupan domestiknya, setiap manusia memproduksi sejumlah sampah dalam bentuk padatan dengan volume ruang antara 5 liter atau sekitar 3 kg sampah/hari, baik sampah organik (tinja, sisa dapur, sisa makanan) maupun sampah anorganik (kertas, plastik, kaca dan sebagainya). Sampah dapat berada pada setiap fase materi: padat, cair, atau gas. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa sampah adalah barang sisa atau hasil buangan dari masyarakat ataupun industri yang dianggap tak memiliki guna lagi, baik berbentuk padat, cair ataupun gas.
Menurut Kastaman dan Kramadibrata (2007: 74), menyatakan bahwa “sampah bersumber dari rumah tangga, daerah komersial, institusi, sampah dari sisa-sisa konstruksi bangunan, fasilitas umum, sampah dari hasil pengolahan air buangan serta sisa-sisa pembakaran dari incinerator, industri,dan sampah pertanian.    Dewasa ini” Upaya pengelolaan sampah sangat penting sebab terdapat kebijakan strategis dari pemerintah berupa pendekatan pengurangan sampah dengan konsep Reduce, Reuse, dan Recycle (3R) atau mengurangi, menggunakan kembali, dan mendaur ulang (3M) agar dapat tercapai program zero waste pada tahun 2025.
Berkaitan dengan hal tersebut menurut Kastaman dan Kramadibrata (2007:17), input yang dibutuhkan untuk pengelolaan persampahan ini adalah manusia, peralatan, biaya, dan metode pengelolaan yang saling berkaitan. Secara implisit di sini ditegaskan peran pemerintah sebagaimana ditandaskan Sadyohutomo (2008: 133), penyediaan prasarana dan sarana umum merupakan tanggung jawab pemerintah karena menyangkut hajat hidup orang banyak, baik untuk memenuhi kebutuhan pokok sehari-hari maupun kebutuhan sekunder. Tanggung jawab tersebut menyangkut penyediaan dan pengaturan dalam pengelolaan prasarana dan sarana. Di sisi lain upaya pengelolaan sampah membutuhkan koordinasi di antara beberapa instansi terkait.
Menurut  Nurcholis (2007: 271), koordinasi maka arah, tujuan, dan tindakan yang akan dilakukan menjadi jelas. Koordinasi juga akan menciptakan kesatupaduan tindakan dan metode yang akan dipakai serta memperjelas pembagian pekerjaan antar dinas dan lembaga teknis. Hal ini perlu diperhatikan secara cermat sebab semakin meningkat kebutuhan akan koordinasi semakin meningkat pula kesukaran untuk melaksanakannya secara efektif, Djatmiko (2003: 63), mengatakan bahwa “ Secara empirik, dalam pengelolaan sampah peran masyarakat juga tidak bisa dikesampingkan sebab diakui Kastaman dan Kramadibrata (2007: 18), masyarakat banyak berperan dalam proses penempatan dan pengumpulan sampah sehingga memudahkan dalam pemindahan, pengangkutan, pengelolaan, serta pemanfaatan dan pembuangan sampah akhir yang selama ini ditangani oleh pemerintah daerah”.
B.       Jenis – Jenis Sampah
Pengelolaan sampah yang benar mensyaratkat adanya keterpaduan dari berbagai aspek, mulai dari hulu sampai hilir. Aspek hulu meliputi kegiatan pengelolaan sampah pada tingkat penghasil sampah tahap pertama diantaranya rumah tangga, hotel, maupun rumah makan. Langkah yang bisa diambil pada aspek hulu adalah pemilahan sampah berdasarkan jenisnya.
            Berdasarkan bahan asalnya, sampah dibagi menjadi dua jenis, yaitu sampah organik dan anorganik. Dinegara yang sudah menerapkan pengolahan sampah secara terpadu, tiap jenis sampah ditempatkan sesuai dengan jenisnya. Sampah dipilah menjadi tiga jenis yaitu, sampah organik, anorganik dan B3. Masing-masing golongan sampah ini mempunyai golongan tersendiri, sebagai contoh tempat sampah berwarna hijau adalah tempat sampah organik, merah untuk anorganik dan biru untuk sampah B3. Jika proses klasifikasi ini diterapkan, diharapkan akan memudahkan proses pengolahan sampah pada tahap selanjutnya.
Menurut Daniel (2009: 35-36 ) terdapat tiga jenis sampah, antara lain:
1.      “Sampah organik: sampah yang terdiri dari bahan-bahan yang bisa terurai secara alamiah/biologis, seperti sisa makanan dan guguran daun. Sampah jenis ini juga biasa disebut sampah basah.
2.      Sampah anorganik: sampah yang terdiri dari bahan-bahan yang sulit terurai secara biologis. Proses penghancurannya membutuhkan penanganan lebih lanjut di tempat khusus, misalnya plastik, kaleng dan styrofoam. Sampah jenis ini juga biasa disebut sampah kering.
3.      Sampah bahan berbahaya dan beracun (B3): limbah dari bahan-bahan berbahaya dan beracun seperti limbah rumah sakit, limbah pabrik dan lain-lain.
”Sementara Alex (2012: 5-12), Mengklasifikasikan Jenis sampah  sebagai berikut:
1. Sampah Berdasarkan Sumbernya antara lain
a.       Sampah alam: sampah yang diproduksi di kehidupan liar diintegrasikan melalui proses daur ulang alami, seperti daun-daun kering di hutan yang terurai menjadi tanah.
b.      Sampah manusia: hasil-hasil dari pencernaan manusia, seperti feses dan urin.
c.       Sampah rumah tangga: sampah dari kegiatan di dalam rumah tangga, sampah yang dihasilkan oleh kebanyakan rumah tangga adalah kertas dan plastik.
d.      Sampah konsumsi: sampah yang dihasilkan oleh manusia dari proses penggunaan barang seperti kulit makanan dansisa makanan.
e.       Sampah perkantoran: sampah yang berasal dari lingkungan perkantoran dan pusat perbelanjaan seperti sampah organik, kertas, tekstil, plastik dan logam.
f.       Sampah industri: sampah yang berasal dari daerah industri yang terdiri dari sampah umum dan limbah berbahaya cair atau padat.
g.      Sampah nuklir: sampah yang dihasilkan dari fusi dan fisi nuklir yang menghasilkan uranium dan torium yang sangat berbahaya bagi lingkungan hidup dan juga manusia.
2. Sampah Berdasarkan Jenisnya antara lain:
a.       Sampah organik: buangan sisa makanan misalnya daging, buah, sayuran dan sebagainya.
b.      Sampah anorganik: sisa material sintetis seperti plastik, logam, kaca, keramik dan sebagainya.
3. Berdasarkan Bentuknya
a.       Sampah padat: segala bahan buangan selain kotoran manusia, urin dan sampah cair.
b.      Sampah cair: bahan cairan yang telah digunakan lalu tidak diperlukan kembali dan dibuang ke tempat pembuangan sampah.
C.      Faktor Penyebab Banyaknya Sampah
Sampah baik kualitas maupun kuantitasnya sangat dipengaruhi oleh berbagai kegiatan dan taraf hidup masyarakat. Beberapa faktor yang menyebabkan banyak sampah sebagai berikut :
a.       Jumlah Penduduk.
Jumlah penduduk mempengaruhi kuantitas sampah, Semakin banyak penduduk semakin banyak pula sampah yang terbuang.

b.      Keadaan Sosial - Ekonomi.
Seiring dengan peningkatan sosial – ekonomi masyarakat, akan menyebabkan jumlah perkapita sampah, Semakin tinggi keadaan sosial - ekonomi masyarakat, semakin banyak jumlah perkapita sampah yang menumpuk.
c.       Kemajuan Tekhnologi
Kemajuan tehnologi akan menambah jumlah maupun kualitas sampah, karena pemakaian bahan baku yang semakin beragam, cara pengepakan dan produk manufaktur yang semakin beragam pula (Slamet: 2000). Elemen Fungsional Pengelolaan Sampah Konsep pengolahan sampah di Indonesia yang masih banyak dilakukan sampai dengan saat ini adalah baru pada tahap pengumpulan, pengangkutan dan pembuangan akhir (3P). Sedangkan penanganan sampah melalui pengolahan masih belum populer. Bila konsep pengelolaan dengan 3P masih dipertahankan pada tahun-tahun mendatang, maka akan memperberat tugas pemerintah daerah karena penambahan sarana dan prasarana pengelolaan sampah tidak secepat pertambahan jumlah timbulan sampah yang harus ditangani.
Teknik pengelolaan sampah dapat dimulai dari sumber sampah sampai pada tempat pembuangan akhir sampah. Usaha pertama adalah mengurangi sumber sampah baik dari segi kuantitas maupun kualitas dengan cara. Meningkatkan pemeliharaan dan kualitas barang sehingga tidak cepat menjadi sampah. -Meningkatkan penggunaan bahan yang dapat terurai secara alamiah, misalnya pembungkus plastik diganti dengan pembungkus kertas. Semua usaha ini memerlukan kesadaran dan peran serta masyarakat. Selanjutnya, pengelolaan ditujukan pada pengumpulan sampah mulai dari produsen sampai pada Tempat Pembuangan Akhir (TPA) dengan membuat tempat pembuangan sampah sementara (TPS), transportasi yang sesuai lingkungan, dan pengelolaan pada TPA. Sebelum dimusnahkan sampah dapat juga diolah dulu baik untuk memperkecil volume, untuk daur ulang atau dimanfaatkan kembali. Pengolahan dapat sangat sederhana seperti pemilahan, sampai pada pembakaran atau Insenerasi (Slemet: 2000 ).
D.      Dampak Negatif Dari Sampah Yang Tidak Dikelola
Apabila pengelolaan sampah tidak dilakukan secara sistematis, menyeluruh, dan berkesinambungan maka akan dapat menimbulkan berbagai dampak negatif. Menurut Gelbert dkk dalam Faizah (2008: 35), “dampak-dampak tersebut adalah sebagai berikut:
1.      Dampak terhadap kesehatan: tempat berkembang biak organisme yang dapat menimbulkan berbagai penyakit, meracuni hewan dan tumbuhan yang dikonsumsi oleh manusia.
2.      Dampak terhadap lingkungan: mati atau punahnya flora dan fauna serta menyebabkan kerusakan pada unsur-unsur alam seperti terumbu karang, tanah, perairan hingga lapisan ozon.
3.      Dampak terhadap sosial ekonomi: menyebabkan bau busuk, pemandangan buruk yang sekaligus berdampak negatif pada pariwisata serta bencana seperti banjir.”Sedangkan Darmono (2010) menyatakan bahwa beberapa dampak lainnya adalah terjadinya pencemaran udara yang merusak lapisan ozon sehingga menimbulkan pemanasan global;pencemaran air yang berupa pencemaran substansi kimia dan radioaktif yang mengganggu faunamisalnya keracunan hingga terjadinya kerusakan genetik dan gangguan reproduksi atau perkembangbiakan; dan perpindahan emisi logam yang mempengaruhi kesehatan makhluk hidup.
2.1.1 Pengelolaan Sampah
Neolaka (2008 :66), berpendapat bahwa “ pengelolaan sampah merupakan upaya menciptakan keindahan dengan cara mengolah sampah yang dilaksanakan secara harmonis antara rakyat dan pengelola atau pemerintah secara bersama-sama.”Sedangkan menurut Alex (2012: 40) “pengelolaan sampah adalah kegiatan yang meliputi pengumpulan, pengangkutan, pemrosesan, pendauran ulang atau pembuangan dari material sampah”. Beberapa teknik pengelolaan sampah ini antara lain :
A.    Pengelolaan Sampah Secara Terpadu
Secara teoritis, apabila program pengurangan sampah dengan sistem terpadu di atas dilakukan, maka dapat mengurangi volme/berat sampah sampai dengan hanya 3%, sehingga jumlah truk dan lahan TPA akan berkurang sesuai pengurangan jumlah sampah tersebut, dengan demikian system pengelolaan sampah terpadu sangat menunjang program kebersihan wilayah perkotaan, yang mana masalah keterbatasan lahan merupakan isu utama.
Katakanlah dari setiap 100 ton smapah di wilayah kota mataram, komposisinya terdiri dari 80 ton smpah basah dan 20 ton sampah kering. Selanjutnya sampah basah (organik) dapat menjadi bahan baku kompos yang menghasilkan kompos sekitar 20 ton, sedangkan sisanya sebanyak 48 ton menguap dan sisa proses 12 ton. Sampah kering (anorganik) dapat menjadi bahan daur ulang yang menghasilkan 14 ton produk dan sisa proses 6 ton. Sisa proseskompos dan daur ulang (18) ton, dapat di olah lagi atau langsung di buang ke sanitary landfill. Ini berarti secara teoritis telah menjadi pengurangan sekitar 82%.
B.     Pengelolaan sampah berbasis masyarakat
Akhir akhir ini permasalahan sampah menjadi isu nasional yang santer di tengah – tengah pergulatan ekonomi dan politik negeri ini. Permasalahan yang paling mengemuka adalah ancaman dari masyarakat yang akan menutup secra paksa tempat pembuangan akhir (TPA), sampah yang dianggap mengancam kualitas lingkungan dan kesehatan masyarakat setempat, seperti yang erjadi di bantar gebang (Bekasi) daan sukolila ( cecep: 2012 hal 183).
Sedangkan permasalahan sampah yang belum sempat mengemuka di Indonesia masih cukup banyak, seperti misalnya permaslahan yang berhubungan dengan aspek teknologi, pendanaan, hukum, sosial, dan institusi.

2.1.2 Pengertian Partisipasi Masyarakat
            Menurut Adi (2007) bahwa untuk meningkatkan partisipasi aktif dari masyarakat dalam kegiatan-kegiatan pembangunan masih diperlukannya kesadaran dari warga masyarakat untuk memiliki minat dan tujuan yang sama, hal ini dapat diwujudkan dengan pemberian strategi penyadaran. Dalam konteks pengelolaan sampah, partisipasi masyarakat dapat berupa pemilahan antara sampah organik dan sampah anorganik dalam proses pewadahan, atau melalui pembuatan kompos dalam skala keluarga dan mengurangi penggunaan barang yang tidak mudah terurai (Yolarita: 2011), menurutnya bahwa konsep partisipasi dapat diukur melalui tahap perencanaan, tahap pelaksanaan, dan tahap pemanfaatan. Bila dikaitkan dengan pengelolaan sampah, maka partisipasi masyarakat dalam pengelolaan sampah tidak hanya dilihat dari ikut sertanya masyarakat dalam proses pelaksanaan mengelola sampah, tetapi juga ikut serta menjadi anggota organisasi yang berkaitan dengan masalah sampah yang berperan dalam merencanakan sistem pengelolaan sampah yang baik.
Yuliastuti: etal.( 2013) menambahkan bahwa partisipasi masyarakat dalam pengelolaan sampah dapat berupa partisipasi secara tidak langsung. Partisipasi tidak langsung ini adalah keterlibatan masyarakat dalam masalah keuangan, yaitu partisipasi dalam pengelolaan sampah dengan cara melakukan pembayaran retribusi pelayanan persampahan melalui dinas terkait yang secara langsung memberikan pelayanan dalam kebersihan.
Dari berbagai penjelasan yang telah dipaparkan di atas, dapat disimpulkan bahwa partisipasi masyarakat dalam pengelolaan sampah merupakan keterlibatan masyarakat secara langsung maupun tidak langsung dalam upaya mengelola sampah menjadi suatu benda lain yang memilki manfaat. Banyak cara yang dapat dilakukan oleh masyarakat untuk berpartisipasi dalam pengelolaan sampah, baik dalam bentuk sumbangan tenaga, ide, pikiran, maupun materi. Partisipasi merupakan modal yang penting bagi program pengelolaan sampah untuk dapat berhasil mengatasi permasalahan mengenai sampah rumah tangga yang banyak terdapat di lingkungan masyarakat, terutama di perkotaan.
A.    Partisipasi langsung
Partisipasi langsung adalah keikutsertaan, keterlibatan dan kebersamaan masyarakat, mulai dari gagasan, perumusan kebijakan hingga pelaksanaan operasional program pemerintah dalam mengurangi timbunan sampah.
B.     Partisipasi tidak langsung
Partisipasi tidak langsung adalah keterlibatan dalam masalah keuangan, pemikiran dan material.Menurut Angell (Ross :1967), salah satu faktor yang mempengaruhi kecenderungan seseorang dalam berpartisipasi adalah pekerjaan dan penghasilan yang dimiliki dan dianggap sudah dapat mencukupi kebutuhan hidupnya, sehingga seseorang memiliki keinginan untuk ikut berpartisipasi dalam kegiatan-kegiatan masyarakat. Artinya, bahwa seseorang yang memiliki suasana yang mapan dari sisi ekonomi akan memiliki keinginan yang lebih besar untuk ikut berpartisipasi dalam suatu kegiatan.
2.1.3        Pengertian Masyarakat
A.       Pengertian Masyarakat
Beberapa pengertian masyarakat menurut para ahli adalah sebagai berikut :
Masyarakat menurut peter l. Berger “Definisi masyarakat adalah suatu keseluruhan kompleks hubungan manusia yang luas sifatnya. Keseluruhan yang kompleks sendiri berarti bahwa keseluruhan itu terdiri atas bagian-bagian yang membentuk suatu kesatuan”.
Pengertian Masyarakat Menurut Emile Durkheim “Masyarakat adalah suatu kenyataan objektif individu individu yang merupakan anggota-anggotanya”.
Pengertian Masyarakat Menurut Koentjaraningrat “Masyarakat adalah kesatuan hidup dari makhluk-makhluk manusia yang terikat oleh suatu sistem adat istiadat tertentu”.
Pengertian Masyarakat Menurut  Soekanto “Mengemukakan Ciri-Ciri Suatu Masyarakat Sebagai Berikut :
  • Manusia yang hidup bersama, sekurang-kurangnya terdiri atas dua orang.
  • Bercampur atau bergaul dalam waktu yang cukup lama. Berkumpulnya manusia akan menimbulkan manusiamanusia baru. Sebagai akibat hidup bersama itu, timbul sistem komunikasi dan peraturan-peraturan yang mengatur hubungan antarmanusia.
  • Sadar bahwa mereka merupakan satu-kesatuan.
  • Merupakan suatu sistem hidup bersama. Sistem kehidupan bersama menimbulkan kebudayaan karena mereka merasa dirinya terikat satu dengan lainnya.






B.       Konsep Hubungan Pemahaman, Kemauan dan Pendapatan Konstribusi Masyarakat Terhadap Partisipasi

 Pihak-pihak yang berkepentingan harus ikut bertanggung jawab dalam memberikan pemahaman kepada masyarakat tentang manfaat ikut berpartisipasi dalam menjaga/melestarikan lingkungan sebagai upaya mengantisipasi kerusakan yang dapat menimbulkan bencana alam. Dalam hal ini memberikan pengertian dan pemahaman dalam upaya meningkatkan kesadaran warga untuk ikut serta dalam pengelolaan persampahan.Semakin besar pemahaman masyarakat tentang pentingnya pengelolaan sampah di lingkungan, semakin banyak pula pengetahuan masyarakat, semakin tinggi motivasi serta semakin menyadari pentingnya pengelolaan lingkungan pemukiman.
Menurut Slamet (2003), terdapat syarat-syarat yang diperlukan agar masyarakat dapat berpartisipasi dalam pembangunan, yaitu adanya kesempatan untuk membangun kesempatan dalam pembangunan, adanya kemampuan untuk memanfaatkan kesempatan itu, dan adanya kemauan untuk berpartisipasi. Kemauan masyarakat untuk ikut berpartisipasi dalam pengelolaan sampah sangat diperlukan sekali, misalnya dengan menyediakan sendiri tempat sampah seperti tong sampah, meletakkan sampah yang diproduksinya secara teratur di lokasi yang mudah dijangkau oleh petugas pengumpul sampah, menjaga agar sampah tidak berserakan dan masuk ke dalam parit.Partisipasi masyarakat dalam pengelolaan sampah tersebut dapat bersifat langsung maupun tidak langsung. Partisipasi langsung adalah keikutsertaan, keterlibatan dan kebersamaan masyarakat, mulai dari gagasan, perumusan kebijakan hingga pelaksanaan operasional program. Sedang partisipasi tidak langsung adalah berupa keterlibatan dalam masalah keuangan, pemikiran dan material.
Menurut Angell (Ross: 1967), salah satu faktor yang mempengaruhi kecenderungan seseorang dalam berpartisipasi adalah pekerjaan dan penghasilan yang dimiliki dan dianggap sudah dapat mencukupi kebutuhan hidupnya, sehingga seseorang memiliki keinginan untuk ikut berpartisipasi dalam kegiatan-kegiatan masyarakat. Artinya, bahwa seseorang yang memiliki suasana yang mapan dari sisi ekonomi akan memiliki keinginan yang lebih besar untuk ikut berpartisipasi dalam suatu kegiatan.                                                                         
2.2         Kerangka Teori
Faktor Internal Individu
-  Usia
-  Jenis Kelamin
-  Tingkat Pendidikan
-  Pekerjaan
-  Pendapatan
-  Pengetahuan
-  Pengalaman
Faktor Eksternal Individu
-  Peran Pemerintah/ tokoh masyarakat
-   Sarana dan Prasarana
Partisipasi Masyarakat dalam Pengelolaan Sampah Rumah Tangga
-  Pengurangan pemakaian bahan yang sulit terurai
-  Pemilahan sampah
-  Pemindahan sampah ke tempat pembungan sementara
-  Pemanfaatan kembali sampah
-  Mengiuti kegiatan kebersihan
-  Pembayaran retribusi untuk fasilitas pengelolaan sampah
-  Mengikuti penyuluhan/pelatihan mengenai pengelolaan sampah rumah tangga
-  Pemberian saran/kritik kepada RT/RW mengenai sistem pengelolaan sampah masyarakat
Persepsi Masyarakat terhadap Pengelolaan Sampah Rumah Tangga
 














Keterangan:               
Berhubungan secara langsung
Berhubungan Secara Tidak Langsung

       Masalah mengenai sampah rumah tangga yang semakin meningkat jumlahnya harus diselesaikan secara bersama-sama. Masyarakat sebagai penghuni suatu lingkungan adalah pihak yang sudah sewajarnya bertanggung jawab atas keberlangsungan lingkungannya. Dengan demikian, partisipasi masyarakat dalam pengelolaan sampah adalah suatu syarat penting untuk mewujudkan lingkungan yang bebas dari sampah.
       Partisipasi masyarakat dalam pengelolaan sampah merupakan keterlibatan masyarakat dalam proses-proses pengelolaan sampah mulai dari diri sendiri, yang dapat dilakukan secara langsung maupun tidak langsung. Dilakukan secara langsung berarti masyarakat aktif menyumbangkan tenaga dalam proses pengelolaan sampah, seperti pemakaian bahan yang masih dapat digunakan untuk mengurangi sampah, memilah sampah, mengangkutnya ke tempat pembuangan sementara, memanfaatkan sampah kembali, dan mengikuti kegiatan kebersihan lingkungan. Sedangkan partisipasi tidak langsung dapat berupa pembayaran retribusi untuk fasilitas pengelolaan sampah, mengikuti penyuluhan/pelatihan mengenai pengelolaan sampah rumah tangga, dan member saran/kritik kepada RT/RW mengenai sistem pengelolaan sampah masyarakat.
       Tindakan berpartisipasi dalam kegiatan pengelolaan sampah rumah tangga tidak dapat terlepas dari berbagai faktor yang ada pada individu sebagai bagian dari masyarakat. Faktor tersebut dapat berupa faktor internal maupun eksternal individu dan persepsi masyarakat terhadap pengelolaan sampah rumah tangga. Dalam penelitian ini, faktor internal dan eksternal individu berhubungan secara tidak langsung terhadap partisipasi masyarakat dalam pengelolaan sampah rumah tangga. Sebelum mencapai tindakan partisipasi, individu akan mengalami proses psikologis berupa pembentukan persepsi, sehingga persepsi masyarakat mengenai pengelolaan sampah merupakan hal yang berhubungan langsung dengan partisipasi masyarakat dalam pengelolaan sampah rumah tangga.
       Persepsi merupakan salah satu penentu tingkat partisipasi masyarakat karena persepsi merupakan hal yang mendasari seorang individu dalam setiap tindakannya. Dalam hal ini, persepsi sebagai pembentuk sikap dan perilaku akan melandasi perilaku masyarakat untuk berpartisipasi dalam pengelolaan sampah. Ketika persepsi masyarakat terhadap pengelolaan sampah rumah tangga positif, maka masyarakat akan cenderung memiliki tingkat partisipasi yang tinggi dalam pengelolaan sampah rumah tangga. Begitu pula sebaliknya, jika masyarakat memiliki persepsi yang negative terhadap pengelolaan sampah rumah tangga, maka masyarakat akan cenderung
                 Terdapat faktor-faktor yang mempengaruhi persepsi masyarakat terhadap pengelolaan sampah, di mana faktor-faktor tersebut berasal dari internal dan eksternal individu. Faktor internal individu terdiri dari usia, jenis kelamin, tingkat pendidikan, pekerjaan, pendapatan, pengetahuan dan pengalaman. Faktor-faktor yang berasal dari dalam individu ini tidak terlepas dari faktor eksternal atau lingkungan individu. Faktor eksternal tersebut terdiri atas peran pemerintah/tokoh masyarakat dalam menyebarkan informasi mengenai pengelolaan sampah.

3.    METODE PELITIAN
3.1  Rancangan penelitian
Penelitian ini menggunakan pendekatan sosial dan pendekatan kualitatif deskriptif dengan jenis penelitian doctrinal - nondoktrinal, atau yang disebut juga penelitian normatif empiris maupun yuridis sosiologis. Di mana “penelitian yang bersifat deskriptif adalah penelitian yang bertujuan untuk melukiskan tentang sesuatu hal di daerah tertentu dan pada saat tertentu” (Waluyo :2008: 8-9), sehingga diharapkan kami akan mendapatkan hasil mengenai partisipasi masyarakat terhadap pengelolaan sampah di kota Mataram.
3.2  Lokasi Penelitian
Penelitian ini akan dilakukan di kota Mataram sebagai kota yang ada di pulau Lombok dan jantung pemerintahan di Nusa Tenggara Barat. Selain Kota Mataram sebagai pusat pemerintahan juga sebagai daerah tujuan wisata bagi masyarakat kota lain, letak kota mataram yang strategis banyak pendatang yang mencari nafkah. Suasana kota mataram yang sejuk dan strategis sehingga bagus untuk pusat pendidikan. Dengan demikian berbagai aktifitas yang ada di kota mataram tersebut menyebabkan jumlah penduduk banyak sehingga berdampak pada kuantitas sampah yang menumpuk.
3.3    Subjek Dan Objek Penelitian

3.4    Jenis dan Sumber Data
Adapun jenis penelitian yang digunakan bersifat kualitatif deskriptif sebagaimana dimungkinkan dalam pendekatan kualitatif. Pendekatan kualitatif dalam penelitian ini dipilih guna menganalisa permasalahan berkenaan partisipasi masyarakat di kota Mataram dalam pengelolaan sampah. Cara ini ditempuh oleh karena sifat permasalahan yang belum jelas, bersifat holistik, kompleks, dinamis serta penuh makna sebagaimana diungkapkan Wahyu (2007: 50).
Sumber Data diperoleh melalui observasi, wawancara, dan studi dokumentasi serta keadaan masyarakat kota Mataram dalam pengelolaan sampah di kota mataram.Data yang telah terkumpul akan dianalisis melalui beberapa tahapan seperti disampaikan Miles dan Huberman (Wahyu dkk, 2007: 60), terdiri atas data reduction, data display, dan conclusion drawing/verification ditunjang dengan uji kredibilitas data melalui perpanjangan pengamatan, meningkatkan ketekunan, triangulasi, analisis kasus negatif, penggunaan bahan referensi, serta membercheck sebagaimana dikemukakan Sugiyono (2009: 270).
3.5         Instrumen penelitian
Subiyanto (2000: 61), menyatakan bahwa “instrumen penelitian adalah segala peralatan yang digunakan untuk memperoleh, mengolah dan menginterpretasikan informasi daripada responden yang dilakukan dengan pola pengukuran yang sama.Sedangkan Sugiyono (2013: 59), berpendapat bahwa “instrumen dalam penelitian kualitatif dapat berupa tes, pedoman wawancara, pedoman observasi dan kuesioner. Dalam penelitian kualitatif, yang menjadi instrumen kunci atau alat penelitian adalah peneliti itu sendiri.”Dari beberapa pendapat para ahli di atas, dapat disimpulkan bahwa instrumen penelitian adalah alat bantu yang digunakan oleh peneliti sebagai pedoman dan penentuan ukuran-ukuran dalam memperoleh data.Alat bantu tambahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pedoman wawancara dan voice recorder atau perekam suara.
Partisipasi masyarakat, peneliti akan mempertanyakan sejauh mana partisipasi masyarakat dalam pengelolaan sampah dikota mataram, peneliti akan mempertanyakan apakah warga ikut berpartisipasi dalam mengelola sampah baik secara langsung maupun tidak langsung, mempertanyakan apakah warga telah memiliki kesadaran dalam ikut berpartisipasi dalam menjaga lingkungan dengan ikut partisipasi dalam pengelolaan sampah apakah warga telah memiliki kesadaran dan kemauan dan mengetahui larangan dan kewajiban dalam pengelolaan sampah secara langsung dan tidak langsung.
3.6         Teknik Pengumpulan data
Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah studi dokumentasi/literatur, observasi dan wawancara
3.5.1 Studi Literature/ Dokumentasi
Nazir (2009 )menyimpulkan studi literatur sebagai salah satu cara untuk mengetahui sejauh mana berkembangnya ilmu yang berhubungan dengan penelitian, sampai ke mana terdapat terdapat kesimpulan dan degeneralisasi yang telah pernah dibuat, sehingga situasi yang diperlukan dapat diperoleh.
Sementara Soehartono (2004: 70) menyatakan bahwa “studi dokumentasi merupakan teknik pengumpulan data yang tidak langsung ditujukan kepada subyek penelitian melainkan dari dokumen baik resmi maupun tidak resmi seperti buku harian, surat pribadi, laporan, notulen rapat, catatan kasus dalam pekerjaan sosial, dan dokumen lainnya.”Dalam penelitian ini, data yang akan dicari dengan teknik dokumentasi adalah statistik dan keterangan tentang lokasi penelitian; peraturan daerah, peraturan kota, proposal atau surat tentang pengelolaan sampah
3.5.2 Observasi
            Sutrisno Hadi (1986: 145) mengemukakan bahwa, observasi merupakan suatu proses yang kompleks, suatu proses yang tersusun dari berbagai proses biologis dan phsikologis.Observasi Yang Akan Digunakan Peneliti Adalah observasi non partisipati artinya peneliti tidak terjun langsung dalam pengelolaan sampah di Kota Mataram yang di lakukan oleh warga.
3.5.3 Wawancara
            Waluyo (2008: 57), mengemukakah bahwa “wawancara adalah kegiatan yang bertatap langsung dengan responden untuk menanyakan perihal pribadi responden, fakta-fakta yang dan dan pendapat, pandangan maupun saran-saran dari responden.”Jenis wawancara yang digunakan adalah wawancara terstruktur dengan format yang disesuaikan dengan masalah yang akan diteliti.Sedangkan yang menjadi informan atau subyek penelitian saat wawancara adalah beberapa warga, pengurus banjar, Ketua RT.Kepala Lingkungan yang berada di Kelurahan pagesangan serta Lurah pagesangan dan Kepala Seksi di Dinas Kebersihan Kota Mataram.
3.6 Teknik Analisa Data
            Analisis data dalam suatu penelitian bertujuan untuk menyempitkan dan membatasi penemuan-penemuan sehingga menjadi suatu data yang teratur, serta tersusun dan lebih berarti (Marzuki, 2001:30), Metode deskriptif kualitatif digunakan untuk menguraikan atau menggambarkan dengan kata – kata atau kalimat – kalimat bukan dengan angka. Permasalahan yang berhubungan dengan partisipasi masyarakat dalam pengelolaan sampah pad kota Mataram.
            Data – data yang diperoleh dari hasil dokumentasi dan komunikasi (interview) kemudian di kembangkan, diperbaiki dan disajikan secara sistematis dengan menggunakan teknik deskrptif kualitatif (Bogdan Dalam Sugiyono 2012: 244).
3.7 Cara Penyajian Hasil Analisis Data
Pengolahan data dilakukan secara manual dan disajikan dalam bentuk hasil wawancara dan observasi lapangan untuk mengetahui tingkat pemahaman kesadaran masyarakat untuk berpartisipasi dalam pengelolaan sampah di Kota Mataram.












DAFTAR PUSTAKA
Alfiandra. 2009. “Kajian Partisipasi Masyarakat Yang Melakukan Pengelolaan Persampahan 3R Di Kelurahan Ngaliyan dan Kalipancur Kota Semarang “ (ID): Universitas Diponegoro. Diunduh 2 april 2015.
              Tersedia pada:http://eprints.undip.ac.id/24266/1/ALFIANDRA.pdf‎. v
Acitya, Serat. 2006. “Peran Serta Masyarakat Dalam Pengelolaan Sampah Rumah Tangga (Studi Kasus Di Sampangan & Jomblang, Kota Semarang). Jurnal Ilmiah UNTAG Semarang. Diunduh 2 april 2015. Tersedia di www.google.com jurnal partisipasi masyarakat dalam pengelolaan sampah.pdf. vol 1 no 1.
Dantes, Nyoman. 2012. Metode penelitian. Yogyakarta: Andi
Iswara, I Nyoman Putra. ,2013. Skripsi “Peran Serta Warga dalam Pengelolaan Sampah    Ditinjau dari Ajaran Tri Hita Karana dan Undang-undang no. 18 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah di Kelurahan Cakranegara Barat, Kota Mataram”. Skripsi Sekolah Tinggi Agama Hindu Negeri Gde Pudja Mataram: Mataram.
Riduan, Akhmad. 2012. Partisipasi Masyarakat Dalam Pengelolaan Sampah Di Bantaran Sungai Kali Nagara Kabupaten Hulu Sungai Utara. Jurnal Socioscientia Kopertis wilayah xi Kalimantan. Diunduh 03 april 2015 tersedia di www.google.com partisipasi masyarakat dalam pengelolaan sampah Akhmad Riduan editan.pdf vol 4 no 2.

Sucipto, Cecep Dani. 2012. Teknologi Pengolahan Sampah. Yogyakarta: Goysen Publishing
Sugiyono . 2014. Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R & D. Bandung: Alfabeta
Tim penulis, 20115.Buku pedoman penulisan skripsi FKIP UM. Mataram, Mataram, FKIP UM Mataram.

Wintoko, Bambang, Keuntungan Ganda Lingkungan Bersih Dan Kemapanan Financial Melaui Abnk Sampah. Yogyakarta, cetakan pertama: Pustaka baru press