PARTISIPASI
MASYARAKAT DALAM PENGELOLAAN SAMPAH DI KOTA MATARAM
1.
PENDAHULUAN
1.1.Latar Belakang
Kota Mataram merupakan salah satu daerah tujuan wisatawan,
dan salah satu tujuan masyarakat untuk menempuh pendidikan baik perguruan
tinggi maupun sekolah yang sederajat, sehingga menjadi salah satu daerah tujuan
bagi para pencari kerja dan siswa yang berdampak terhadap perkembangan jumlah
penduduk. Meningkatnya jumlah penduduk pendatang dan aktivitas yang dilakukan
untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi akan berpengaruh terhadap meningkatnya
volume sampah. Apabila masalah ini tidak dilakukan perubahan dalam penanganannya,
baik teknis maupun kebijakan politis. Dalam waktu dekat diprediksi dapat
mengakibatkan terjadinya pencemaran lingkungan yang cukup signifikan di seluruh
wilayah, baik langsung maupun secara tidak langsung.
Bila masalah sampah ini tidak
mendapat perlakuan penanganan yang baik sebagaimana mestinya jelas akan
berdampak terhadap pencemaran lingkungan serta berkurangnya nilai estetika. Hal
ini terjadi akibat belum dimilikinya rasa tanggung jawab serta masih sangat
rendahnya pemahaman masyarakat terhadap manfaat kebersihan. Partisipasi
masyarakat dalam pengelolaan sampah sangat tergantung kepada pemahaman dan
kemauan masyarakat untuk menjaga dan menciptakan lingkungan bersih. Disamping
itu, kemampuan masyarakat berkontribusi dalam pengelolaan sampah juga akan
sangat tergantung kepada pendapatan masyarakat, khususnya masyarakat Di Kota
Mataram.
Pengelolaan sampah khususnya di kota-kota merupakan salah satu kebutuhan pelayanan yang
sangat penting dan perlu disediakan pemerintah. Jumlah penduduk kota yang relatif
besar dengan kepadatan tinggi akan menghasillkan timbulan sampah yang besar
yang harus ditanggulangi baik untuk kebersihan maupun pelestarian lingkungan
hidup, Volume sampah akan meningkat dengan adanya pertambahan jumlah penduduk
dan peningkatan teknologi dan aktivitas sosial ekonomi masyarakat (Slamet,
1994).
Pertambahan jumlah penduduk di perkotaan yang pesat
berdampak terhadap peningkatan jumlah sampah yang di hasilkan. Peningkatan
jumlah sampah yang tidak diikuti oleh perbaikan dan peningkatan sarana dan
prasarana pengelolaan sampah mengakibatkan permasalahan sampah menjadi komplek,
antara lain sampah tidak terangkut dan terjadi pembuangan sampah liar, sehingga
dapat menimbulkan berbagai penyakit, kota kotor, bau tidak sedap, mengurangi
daya tampung sungai dan lain-lain.
1.2 Rumusan Masalah
Rumusan
masalah dari penelitian ini adalah sebagai berikut:
1.
Bagaimana
Konstribusi Masyarakat Kota Mataram Dalam Pengelolaan Sampah Di Kota Mataram ?
2.
Bagaimana
Kesadaran Dan Kemauan, Masyarakat dalam Pengelolaan Sampah di Kota Mataram ?
1.3 Tujuan Penelitian
1.
Untuk
Mengetahui Konstribusi Masyarakat Kota Mataram Terhadap Pengelolaan Sampah Di
Kota Mataram.
2.
Untuk
Mengetahui Bagaimana Kesadaran Dan Kemauan Masyarakat Dalam Pengelolaan Sampah
Di Kota Mataram..
1.4 Manfaat Penelitian
1.4.1
Manfaat Teoritis
Dapat dijadikan sebagai referensi dalam pengembangan ilmu
pengetahuan terkait persoalan partisipasi pengelolaan sampah maupun menjadi
referensi bagi peneliti yang ingin meneliti permasalahan yang sama.
1.4.2
Manfaat Praktis
1.
Memberikan
informasi bagi masyarakat mengenai partisipasi masyarakat terhadap pengelolaan
sampah di Kota Mataram, serta turu ikut serta dalam mengurangi masalah samapah
di kota Mataram.
2.
Diperolehnya
data mengenai pemahaman, kemauan, dan pendapatan masyarakat
secara simultan berpengaruh signifikan terhadap partisipasi masyarakat
3.
Memberikan
masukan bagi kebijakan pemerintah dalam mengurangi sampah di perkotaan
khususnya kota Mataram dan masyarakat diharapkan lebih memahami dan ikut
berpartisipasi dalam mengelola sampah
2. LANDASAN TEORI
2.1. Kajian Pustaka
A.
Pengertian Sampah
Menurut Departemen Pekerjaan Umum
sampah adalah limbah yang bersifat padat, yang terdiri dari zat organik dan zat
anorganik, yang dianggap tidak berguna lagi dan harus dikelola agar tidak
membahayakan lingkungan dan melindungi investasi pembangunan. Menurut
Hakim,dkk.(2006: 1) sampah selalu identik dengan barang sisa atau hasil buangan
tak berharga. Meski setiap hari manusia selalu menghasilkan sampah, manusia
pula yang paling menghindari sampah.
Pengelolaan Sampah Dalam kehidupan sehari-hari, manusia
selalu bersentuhan dengan sampah terutama sekali sampah rumah tangga. Kastaman
dan Kramadibrata (2007:11) mengungkapkan, dalam kegiatan kehidupan domestiknya,
setiap manusia memproduksi sejumlah sampah dalam bentuk padatan dengan volume
ruang antara 5 liter atau sekitar 3 kg sampah/hari, baik sampah organik (tinja,
sisa dapur, sisa makanan) maupun sampah anorganik (kertas, plastik, kaca dan
sebagainya). Sampah dapat berada pada setiap fase materi: padat, cair, atau
gas. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa sampah adalah barang sisa atau
hasil buangan dari masyarakat ataupun industri yang dianggap tak memiliki guna
lagi, baik berbentuk padat, cair ataupun gas.
Menurut
Kastaman dan Kramadibrata (2007: 74), menyatakan bahwa “sampah bersumber dari
rumah tangga, daerah komersial, institusi, sampah dari sisa-sisa konstruksi
bangunan, fasilitas umum, sampah dari hasil pengolahan air buangan serta sisa-sisa
pembakaran dari incinerator, industri,dan sampah pertanian. Dewasa ini” Upaya pengelolaan sampah sangat
penting sebab terdapat kebijakan strategis dari pemerintah berupa pendekatan
pengurangan sampah dengan konsep Reduce,
Reuse, dan Recycle (3R) atau
mengurangi, menggunakan kembali, dan mendaur ulang (3M) agar dapat tercapai
program zero waste pada tahun 2025.
Berkaitan dengan hal tersebut menurut Kastaman dan
Kramadibrata (2007:17), input yang dibutuhkan untuk pengelolaan persampahan ini
adalah manusia, peralatan, biaya, dan metode pengelolaan yang saling berkaitan.
Secara implisit di sini ditegaskan peran pemerintah sebagaimana ditandaskan
Sadyohutomo (2008: 133), penyediaan prasarana dan sarana umum merupakan
tanggung jawab pemerintah karena menyangkut hajat hidup orang banyak, baik
untuk memenuhi kebutuhan pokok sehari-hari maupun kebutuhan sekunder. Tanggung
jawab tersebut menyangkut penyediaan dan pengaturan dalam pengelolaan prasarana
dan sarana. Di sisi lain upaya pengelolaan sampah membutuhkan koordinasi di
antara beberapa instansi terkait.
Menurut Nurcholis
(2007: 271), koordinasi maka arah, tujuan, dan tindakan yang akan dilakukan
menjadi jelas. Koordinasi juga akan menciptakan kesatupaduan tindakan dan
metode yang akan dipakai serta memperjelas pembagian pekerjaan antar dinas dan
lembaga teknis. Hal ini perlu diperhatikan secara cermat sebab semakin
meningkat kebutuhan akan koordinasi semakin meningkat pula kesukaran untuk
melaksanakannya secara efektif, Djatmiko (2003: 63), mengatakan bahwa “ Secara
empirik, dalam pengelolaan sampah peran masyarakat juga tidak bisa
dikesampingkan sebab diakui Kastaman dan Kramadibrata (2007: 18), masyarakat
banyak berperan dalam proses penempatan dan pengumpulan sampah sehingga
memudahkan dalam pemindahan, pengangkutan, pengelolaan, serta pemanfaatan dan
pembuangan sampah akhir yang selama ini ditangani oleh pemerintah daerah”.
B.
Jenis – Jenis Sampah
Pengelolaan sampah yang benar mensyaratkat adanya
keterpaduan dari berbagai aspek, mulai dari hulu sampai hilir. Aspek hulu
meliputi kegiatan pengelolaan sampah pada tingkat penghasil sampah tahap
pertama diantaranya rumah tangga, hotel, maupun rumah makan. Langkah yang bisa
diambil pada aspek hulu adalah pemilahan sampah berdasarkan jenisnya.
Berdasarkan bahan asalnya, sampah
dibagi menjadi dua jenis, yaitu sampah organik dan anorganik. Dinegara yang
sudah menerapkan pengolahan sampah secara terpadu, tiap jenis sampah
ditempatkan sesuai dengan jenisnya. Sampah dipilah menjadi tiga jenis yaitu, sampah
organik, anorganik dan B3. Masing-masing golongan sampah ini mempunyai golongan
tersendiri, sebagai contoh tempat sampah berwarna hijau adalah tempat sampah
organik, merah untuk anorganik dan biru untuk sampah B3. Jika proses
klasifikasi ini diterapkan, diharapkan akan memudahkan proses pengolahan sampah
pada tahap selanjutnya.
Menurut
Daniel (2009: 35-36 ) terdapat tiga jenis sampah, antara lain:
1.
“Sampah
organik: sampah yang terdiri dari bahan-bahan yang bisa terurai secara
alamiah/biologis, seperti sisa makanan dan guguran daun. Sampah jenis ini juga
biasa disebut sampah basah.
2.
Sampah
anorganik: sampah yang terdiri dari bahan-bahan yang sulit terurai secara
biologis. Proses penghancurannya membutuhkan penanganan lebih lanjut di tempat
khusus, misalnya plastik, kaleng dan styrofoam. Sampah jenis ini juga biasa
disebut sampah kering.
3.
Sampah
bahan berbahaya dan beracun (B3): limbah dari bahan-bahan berbahaya dan beracun
seperti limbah rumah sakit, limbah pabrik dan lain-lain.
”Sementara
Alex (2012: 5-12), Mengklasifikasikan Jenis sampah sebagai berikut:
1.
Sampah Berdasarkan Sumbernya antara lain
a.
Sampah
alam: sampah yang diproduksi di kehidupan liar diintegrasikan melalui proses
daur ulang alami, seperti daun-daun kering di hutan yang terurai menjadi tanah.
b.
Sampah
manusia: hasil-hasil dari pencernaan manusia, seperti feses dan urin.
c.
Sampah
rumah tangga: sampah dari kegiatan di dalam rumah tangga, sampah yang
dihasilkan oleh kebanyakan rumah tangga adalah kertas dan plastik.
d.
Sampah
konsumsi: sampah yang dihasilkan oleh manusia dari proses penggunaan barang
seperti kulit makanan dansisa makanan.
e.
Sampah
perkantoran: sampah yang berasal dari lingkungan perkantoran dan pusat
perbelanjaan seperti sampah organik, kertas, tekstil, plastik dan logam.
f.
Sampah
industri: sampah yang berasal dari daerah industri yang terdiri dari sampah
umum dan limbah berbahaya cair atau padat.
g.
Sampah
nuklir: sampah yang dihasilkan dari fusi dan fisi nuklir yang menghasilkan
uranium dan torium yang sangat berbahaya bagi lingkungan hidup dan juga
manusia.
2.
Sampah Berdasarkan Jenisnya antara lain:
a.
Sampah
organik: buangan sisa makanan misalnya daging, buah, sayuran dan sebagainya.
b.
Sampah
anorganik: sisa material sintetis seperti plastik, logam, kaca, keramik dan
sebagainya.
3.
Berdasarkan Bentuknya
a.
Sampah
padat: segala bahan buangan selain kotoran manusia, urin dan sampah cair.
b.
Sampah
cair: bahan cairan yang telah digunakan lalu tidak diperlukan kembali dan
dibuang ke tempat pembuangan sampah.
C.
Faktor Penyebab Banyaknya Sampah
Sampah baik kualitas maupun kuantitasnya sangat dipengaruhi
oleh berbagai kegiatan dan taraf hidup masyarakat. Beberapa faktor yang menyebabkan
banyak sampah sebagai berikut :
a.
Jumlah
Penduduk.
Jumlah penduduk mempengaruhi kuantitas sampah, Semakin
banyak penduduk semakin banyak pula sampah yang terbuang.
b.
Keadaan
Sosial - Ekonomi.
Seiring dengan peningkatan sosial –
ekonomi masyarakat, akan menyebabkan jumlah perkapita sampah, Semakin tinggi
keadaan sosial - ekonomi masyarakat, semakin banyak jumlah perkapita sampah
yang menumpuk.
c.
Kemajuan
Tekhnologi
Kemajuan tehnologi akan menambah jumlah maupun kualitas
sampah, karena pemakaian bahan baku yang semakin beragam, cara pengepakan dan
produk manufaktur yang semakin beragam pula (Slamet: 2000). Elemen Fungsional
Pengelolaan Sampah Konsep pengolahan sampah di Indonesia yang masih banyak
dilakukan sampai dengan saat ini adalah baru pada tahap pengumpulan,
pengangkutan dan pembuangan akhir (3P). Sedangkan penanganan sampah melalui
pengolahan masih belum populer. Bila konsep pengelolaan dengan 3P masih
dipertahankan pada tahun-tahun mendatang, maka akan memperberat tugas
pemerintah daerah karena penambahan sarana dan prasarana pengelolaan sampah
tidak secepat pertambahan jumlah timbulan sampah yang harus ditangani.
Teknik pengelolaan sampah dapat dimulai dari sumber sampah
sampai pada tempat pembuangan akhir sampah. Usaha pertama adalah mengurangi
sumber sampah baik dari segi kuantitas maupun kualitas dengan cara. Meningkatkan
pemeliharaan dan kualitas barang sehingga tidak cepat menjadi sampah.
-Meningkatkan penggunaan bahan yang dapat terurai secara alamiah, misalnya
pembungkus plastik diganti dengan pembungkus kertas. Semua usaha ini memerlukan
kesadaran dan peran serta masyarakat. Selanjutnya, pengelolaan ditujukan pada
pengumpulan sampah mulai dari produsen sampai pada Tempat Pembuangan Akhir
(TPA) dengan membuat tempat pembuangan sampah sementara (TPS), transportasi
yang sesuai lingkungan, dan pengelolaan pada TPA. Sebelum dimusnahkan sampah
dapat juga diolah dulu baik untuk memperkecil volume, untuk daur ulang atau
dimanfaatkan kembali. Pengolahan dapat sangat sederhana seperti pemilahan,
sampai pada pembakaran atau Insenerasi (Slemet: 2000 ).
D.
Dampak Negatif Dari Sampah Yang
Tidak Dikelola
Apabila pengelolaan sampah tidak dilakukan secara
sistematis, menyeluruh, dan berkesinambungan maka akan dapat menimbulkan
berbagai dampak negatif. Menurut Gelbert dkk dalam Faizah (2008: 35),
“dampak-dampak tersebut adalah sebagai berikut:
1.
Dampak
terhadap kesehatan: tempat berkembang biak organisme yang dapat menimbulkan
berbagai penyakit, meracuni hewan dan tumbuhan yang dikonsumsi oleh manusia.
2.
Dampak
terhadap lingkungan: mati atau punahnya flora dan fauna serta menyebabkan
kerusakan pada unsur-unsur alam seperti terumbu karang, tanah, perairan hingga
lapisan ozon.
3.
Dampak
terhadap sosial ekonomi: menyebabkan bau busuk, pemandangan buruk yang
sekaligus berdampak negatif pada pariwisata serta bencana seperti
banjir.”Sedangkan Darmono (2010) menyatakan bahwa beberapa dampak lainnya
adalah terjadinya pencemaran udara yang merusak lapisan ozon sehingga
menimbulkan pemanasan global;pencemaran air yang berupa pencemaran substansi
kimia dan radioaktif yang mengganggu faunamisalnya keracunan hingga terjadinya
kerusakan genetik dan gangguan reproduksi atau perkembangbiakan; dan
perpindahan emisi logam yang mempengaruhi kesehatan makhluk hidup.
2.1.1 Pengelolaan Sampah
Neolaka (2008 :66), berpendapat bahwa “ pengelolaan sampah
merupakan upaya menciptakan keindahan dengan cara mengolah sampah yang
dilaksanakan secara harmonis antara rakyat dan pengelola atau pemerintah secara
bersama-sama.”Sedangkan menurut Alex (2012: 40) “pengelolaan sampah adalah
kegiatan yang meliputi pengumpulan, pengangkutan, pemrosesan, pendauran ulang
atau pembuangan dari material sampah”. Beberapa teknik pengelolaan sampah ini
antara lain :
A. Pengelolaan
Sampah Secara Terpadu
Secara teoritis, apabila program pengurangan sampah dengan
sistem terpadu di atas dilakukan, maka dapat mengurangi volme/berat sampah
sampai dengan hanya 3%, sehingga jumlah truk dan lahan TPA akan berkurang
sesuai pengurangan jumlah sampah tersebut, dengan demikian system pengelolaan
sampah terpadu sangat menunjang program kebersihan wilayah perkotaan, yang mana
masalah keterbatasan lahan merupakan isu utama.
Katakanlah dari setiap 100 ton smapah di wilayah kota
mataram, komposisinya terdiri dari 80 ton smpah basah dan 20 ton sampah kering.
Selanjutnya sampah basah (organik) dapat menjadi bahan baku kompos yang
menghasilkan kompos sekitar 20 ton, sedangkan sisanya sebanyak 48 ton menguap
dan sisa proses 12 ton. Sampah kering (anorganik) dapat menjadi bahan daur
ulang yang menghasilkan 14 ton produk dan sisa proses 6 ton. Sisa proseskompos
dan daur ulang (18) ton, dapat di olah lagi atau langsung di buang ke sanitary landfill. Ini berarti secara
teoritis telah menjadi pengurangan sekitar 82%.
B. Pengelolaan
sampah berbasis masyarakat
Akhir akhir ini permasalahan sampah menjadi isu nasional
yang santer di tengah – tengah pergulatan ekonomi dan politik negeri ini.
Permasalahan yang paling mengemuka adalah ancaman dari masyarakat yang akan
menutup secra paksa tempat pembuangan akhir (TPA), sampah yang dianggap
mengancam kualitas lingkungan dan kesehatan masyarakat setempat, seperti yang
erjadi di bantar gebang (Bekasi) daan sukolila ( cecep: 2012 hal 183).
Sedangkan
permasalahan sampah yang belum sempat mengemuka di Indonesia masih cukup
banyak, seperti misalnya permaslahan yang berhubungan dengan aspek teknologi,
pendanaan, hukum, sosial, dan institusi.
2.1.2 Pengertian Partisipasi
Masyarakat
Menurut Adi (2007) bahwa untuk
meningkatkan partisipasi aktif dari masyarakat dalam kegiatan-kegiatan
pembangunan masih diperlukannya kesadaran dari warga masyarakat
untuk memiliki minat dan tujuan yang sama, hal ini dapat diwujudkan dengan
pemberian strategi penyadaran. Dalam konteks pengelolaan sampah,
partisipasi masyarakat dapat berupa pemilahan antara sampah organik dan sampah
anorganik dalam proses pewadahan, atau melalui pembuatan kompos dalam skala
keluarga dan mengurangi penggunaan barang yang tidak mudah terurai (Yolarita:
2011), menurutnya bahwa konsep partisipasi dapat diukur melalui tahap
perencanaan, tahap pelaksanaan, dan tahap pemanfaatan. Bila dikaitkan dengan
pengelolaan sampah, maka partisipasi masyarakat dalam pengelolaan sampah tidak
hanya dilihat dari ikut sertanya masyarakat dalam proses pelaksanaan mengelola
sampah, tetapi juga ikut serta menjadi anggota organisasi yang berkaitan dengan
masalah sampah yang berperan dalam merencanakan sistem pengelolaan sampah yang
baik.
Yuliastuti: etal.( 2013) menambahkan bahwa
partisipasi masyarakat dalam pengelolaan sampah dapat berupa partisipasi secara
tidak langsung. Partisipasi tidak langsung ini adalah keterlibatan masyarakat
dalam masalah keuangan, yaitu partisipasi dalam pengelolaan sampah dengan cara
melakukan pembayaran retribusi pelayanan persampahan melalui dinas terkait yang
secara langsung memberikan pelayanan dalam kebersihan.
Dari berbagai
penjelasan yang telah dipaparkan di atas, dapat disimpulkan bahwa partisipasi
masyarakat dalam pengelolaan sampah merupakan keterlibatan masyarakat secara
langsung maupun tidak langsung dalam upaya mengelola sampah menjadi suatu benda
lain yang memilki manfaat. Banyak cara yang dapat dilakukan oleh masyarakat
untuk berpartisipasi dalam pengelolaan sampah, baik dalam bentuk sumbangan
tenaga, ide, pikiran, maupun materi. Partisipasi merupakan modal yang penting
bagi program pengelolaan sampah untuk dapat berhasil mengatasi permasalahan
mengenai sampah rumah tangga yang banyak terdapat di lingkungan masyarakat,
terutama di perkotaan.
A. Partisipasi
langsung
Partisipasi langsung adalah keikutsertaan, keterlibatan dan
kebersamaan masyarakat, mulai dari gagasan, perumusan kebijakan hingga pelaksanaan
operasional program pemerintah dalam mengurangi timbunan sampah.
B. Partisipasi
tidak langsung
Partisipasi tidak langsung adalah keterlibatan dalam masalah
keuangan, pemikiran dan material.Menurut Angell (Ross :1967), salah satu faktor
yang mempengaruhi kecenderungan seseorang dalam berpartisipasi adalah pekerjaan
dan penghasilan yang dimiliki dan dianggap sudah dapat mencukupi kebutuhan hidupnya,
sehingga seseorang memiliki keinginan untuk ikut berpartisipasi dalam
kegiatan-kegiatan masyarakat. Artinya, bahwa seseorang yang memiliki suasana
yang mapan dari sisi ekonomi akan memiliki keinginan yang lebih
besar untuk ikut berpartisipasi dalam suatu kegiatan.
2.1.3
Pengertian Masyarakat
A.
Pengertian Masyarakat
Beberapa pengertian masyarakat menurut para ahli adalah
sebagai berikut :
Masyarakat
menurut peter l. Berger “Definisi masyarakat adalah suatu keseluruhan kompleks
hubungan manusia yang luas sifatnya. Keseluruhan yang kompleks sendiri berarti
bahwa keseluruhan itu terdiri atas bagian-bagian yang membentuk suatu
kesatuan”.
Pengertian
Masyarakat Menurut Emile Durkheim “Masyarakat adalah suatu kenyataan
objektif individu individu yang merupakan anggota-anggotanya”.
Pengertian
Masyarakat Menurut Koentjaraningrat “Masyarakat adalah kesatuan hidup dari
makhluk-makhluk manusia yang terikat oleh suatu sistem adat istiadat tertentu”.
Pengertian
Masyarakat Menurut Soekanto “Mengemukakan Ciri-Ciri Suatu Masyarakat
Sebagai Berikut :
- Manusia yang hidup bersama, sekurang-kurangnya terdiri atas dua orang.
- Bercampur atau bergaul dalam waktu yang cukup lama. Berkumpulnya manusia akan menimbulkan manusiamanusia baru. Sebagai akibat hidup bersama itu, timbul sistem komunikasi dan peraturan-peraturan yang mengatur hubungan antarmanusia.
- Sadar bahwa mereka merupakan satu-kesatuan.
- Merupakan suatu sistem hidup bersama. Sistem kehidupan bersama menimbulkan kebudayaan karena mereka merasa dirinya terikat satu dengan lainnya.
B.
Konsep Hubungan Pemahaman, Kemauan
dan Pendapatan Konstribusi Masyarakat Terhadap Partisipasi
Pihak-pihak yang
berkepentingan harus ikut bertanggung jawab dalam memberikan pemahaman kepada
masyarakat tentang manfaat ikut berpartisipasi dalam menjaga/melestarikan
lingkungan sebagai upaya mengantisipasi kerusakan yang dapat menimbulkan
bencana alam. Dalam hal ini memberikan pengertian dan pemahaman dalam upaya
meningkatkan kesadaran warga untuk ikut serta dalam pengelolaan
persampahan.Semakin besar pemahaman masyarakat tentang pentingnya pengelolaan
sampah di lingkungan, semakin banyak pula pengetahuan masyarakat, semakin
tinggi motivasi serta semakin menyadari pentingnya pengelolaan lingkungan
pemukiman.
Menurut Slamet (2003), terdapat syarat-syarat yang
diperlukan agar masyarakat dapat berpartisipasi dalam pembangunan, yaitu adanya
kesempatan untuk membangun kesempatan dalam pembangunan, adanya kemampuan untuk
memanfaatkan kesempatan itu, dan adanya kemauan untuk berpartisipasi. Kemauan
masyarakat untuk ikut berpartisipasi dalam pengelolaan sampah sangat diperlukan
sekali, misalnya dengan menyediakan sendiri tempat sampah seperti tong sampah,
meletakkan sampah yang diproduksinya secara teratur di lokasi yang mudah
dijangkau oleh petugas pengumpul sampah, menjaga agar sampah tidak berserakan
dan masuk ke dalam parit.Partisipasi masyarakat dalam pengelolaan sampah
tersebut dapat bersifat langsung maupun tidak langsung. Partisipasi langsung
adalah keikutsertaan, keterlibatan dan kebersamaan masyarakat, mulai dari
gagasan, perumusan kebijakan hingga pelaksanaan operasional program. Sedang
partisipasi tidak langsung adalah berupa keterlibatan dalam masalah keuangan,
pemikiran dan material.
Menurut Angell (Ross: 1967), salah satu faktor yang
mempengaruhi kecenderungan seseorang dalam berpartisipasi adalah pekerjaan dan
penghasilan yang dimiliki dan dianggap sudah dapat mencukupi kebutuhan
hidupnya, sehingga seseorang memiliki keinginan untuk ikut berpartisipasi dalam
kegiatan-kegiatan masyarakat. Artinya, bahwa seseorang yang memiliki suasana
yang mapan dari sisi ekonomi akan memiliki keinginan yang lebih besar untuk
ikut berpartisipasi dalam suatu kegiatan.
2.2
Kerangka Teori
|
Faktor
Internal Individu
-
Usia
-
Jenis Kelamin
-
Tingkat Pendidikan
-
Pekerjaan
-
Pendapatan
-
Pengetahuan
-
Pengalaman
|
|
Faktor
Eksternal Individu
-
Peran Pemerintah/ tokoh
masyarakat
-
Sarana dan Prasarana
|
|
Partisipasi
Masyarakat dalam Pengelolaan Sampah Rumah Tangga
-
Pengurangan pemakaian bahan yang sulit terurai
-
Pemilahan sampah
-
Pemindahan sampah ke tempat pembungan sementara
-
Pemanfaatan kembali sampah
-
Mengiuti kegiatan kebersihan
-
Pembayaran retribusi untuk fasilitas
pengelolaan sampah
-
Mengikuti penyuluhan/pelatihan mengenai
pengelolaan sampah rumah tangga
-
Pemberian saran/kritik kepada RT/RW mengenai
sistem pengelolaan
sampah masyarakat
|
|
Persepsi Masyarakat terhadap
Pengelolaan Sampah Rumah Tangga
|
Keterangan:
Berhubungan
secara langsung
Berhubungan
Secara Tidak Langsung
Masalah
mengenai sampah rumah tangga yang semakin meningkat jumlahnya harus
diselesaikan secara bersama-sama. Masyarakat sebagai penghuni suatu lingkungan
adalah pihak yang sudah sewajarnya bertanggung jawab atas keberlangsungan
lingkungannya. Dengan demikian, partisipasi masyarakat dalam pengelolaan sampah
adalah suatu syarat penting untuk mewujudkan lingkungan yang bebas dari sampah.
Partisipasi
masyarakat dalam pengelolaan sampah merupakan keterlibatan masyarakat dalam
proses-proses pengelolaan sampah mulai dari diri sendiri, yang dapat dilakukan
secara langsung maupun tidak langsung. Dilakukan secara langsung berarti
masyarakat aktif menyumbangkan tenaga dalam proses pengelolaan sampah, seperti
pemakaian bahan yang masih dapat digunakan untuk mengurangi sampah, memilah
sampah, mengangkutnya ke tempat pembuangan sementara, memanfaatkan sampah
kembali, dan mengikuti kegiatan kebersihan lingkungan. Sedangkan partisipasi
tidak langsung dapat berupa pembayaran retribusi untuk fasilitas pengelolaan
sampah, mengikuti penyuluhan/pelatihan mengenai pengelolaan sampah rumah
tangga, dan member saran/kritik kepada RT/RW mengenai sistem pengelolaan sampah
masyarakat.
Tindakan
berpartisipasi dalam kegiatan pengelolaan sampah rumah tangga tidak dapat
terlepas dari berbagai faktor yang ada pada individu sebagai bagian dari
masyarakat. Faktor tersebut dapat berupa faktor internal maupun eksternal
individu dan persepsi masyarakat terhadap pengelolaan sampah rumah tangga.
Dalam penelitian ini, faktor internal dan eksternal individu berhubungan secara
tidak langsung terhadap partisipasi masyarakat dalam pengelolaan sampah rumah
tangga. Sebelum mencapai tindakan partisipasi, individu akan mengalami proses
psikologis berupa pembentukan persepsi, sehingga persepsi masyarakat mengenai
pengelolaan sampah merupakan hal yang berhubungan langsung dengan partisipasi
masyarakat dalam pengelolaan sampah rumah tangga.
Persepsi
merupakan salah satu penentu tingkat partisipasi masyarakat karena persepsi
merupakan hal yang mendasari seorang individu dalam setiap tindakannya. Dalam
hal ini, persepsi sebagai pembentuk sikap dan perilaku akan melandasi perilaku
masyarakat untuk berpartisipasi dalam pengelolaan sampah. Ketika persepsi
masyarakat terhadap pengelolaan sampah rumah tangga positif, maka masyarakat
akan cenderung memiliki tingkat partisipasi yang tinggi dalam pengelolaan
sampah rumah tangga. Begitu pula sebaliknya, jika masyarakat memiliki persepsi
yang negative terhadap pengelolaan sampah rumah tangga, maka masyarakat akan
cenderung
Terdapat
faktor-faktor yang mempengaruhi persepsi masyarakat terhadap pengelolaan
sampah, di mana faktor-faktor tersebut berasal dari internal dan eksternal
individu. Faktor internal individu terdiri dari usia, jenis kelamin, tingkat
pendidikan, pekerjaan, pendapatan, pengetahuan dan pengalaman. Faktor-faktor
yang berasal dari dalam individu ini tidak terlepas dari faktor eksternal atau
lingkungan individu. Faktor eksternal tersebut terdiri atas peran
pemerintah/tokoh masyarakat dalam menyebarkan informasi mengenai pengelolaan
sampah.
3. METODE PELITIAN
3.1 Rancangan
penelitian
Penelitian ini menggunakan pendekatan sosial dan pendekatan
kualitatif deskriptif dengan jenis penelitian doctrinal - nondoktrinal, atau
yang disebut juga penelitian normatif empiris maupun yuridis sosiologis. Di
mana “penelitian yang bersifat deskriptif adalah penelitian yang bertujuan
untuk melukiskan tentang sesuatu hal di daerah tertentu dan pada saat tertentu”
(Waluyo :2008: 8-9), sehingga diharapkan kami akan mendapatkan hasil mengenai
partisipasi masyarakat terhadap pengelolaan sampah di kota Mataram.
3.2 Lokasi Penelitian
Penelitian ini akan dilakukan di kota Mataram sebagai kota
yang ada di pulau Lombok dan jantung pemerintahan di Nusa Tenggara Barat. Selain
Kota Mataram sebagai pusat pemerintahan juga sebagai daerah tujuan wisata bagi masyarakat
kota lain, letak kota mataram yang strategis banyak pendatang yang mencari
nafkah. Suasana kota mataram yang sejuk dan strategis sehingga bagus untuk
pusat pendidikan. Dengan demikian berbagai aktifitas yang ada di kota mataram
tersebut menyebabkan jumlah penduduk banyak sehingga berdampak pada kuantitas
sampah yang menumpuk.
3.3
Subjek Dan Objek Penelitian
3.4
Jenis dan Sumber Data
Adapun jenis penelitian yang digunakan bersifat kualitatif
deskriptif sebagaimana dimungkinkan dalam pendekatan kualitatif. Pendekatan
kualitatif dalam penelitian ini dipilih guna menganalisa permasalahan berkenaan
partisipasi masyarakat di kota Mataram dalam pengelolaan sampah. Cara ini
ditempuh oleh karena sifat permasalahan yang belum jelas, bersifat holistik,
kompleks, dinamis serta penuh makna sebagaimana diungkapkan Wahyu (2007: 50).
Sumber Data diperoleh melalui observasi, wawancara, dan studi dokumentasi serta keadaan masyarakat
kota Mataram dalam pengelolaan sampah di kota mataram.Data yang telah terkumpul
akan dianalisis melalui beberapa tahapan seperti disampaikan Miles dan Huberman
(Wahyu dkk, 2007: 60), terdiri atas data reduction,
data display, dan conclusion drawing/verification ditunjang
dengan uji kredibilitas data melalui perpanjangan pengamatan, meningkatkan
ketekunan, triangulasi, analisis kasus negatif, penggunaan bahan referensi,
serta membercheck sebagaimana dikemukakan Sugiyono (2009: 270).
3.5
Instrumen penelitian
Subiyanto (2000: 61), menyatakan bahwa “instrumen penelitian
adalah segala peralatan yang digunakan untuk memperoleh, mengolah dan
menginterpretasikan informasi daripada responden yang dilakukan dengan pola
pengukuran yang sama.Sedangkan Sugiyono (2013: 59), berpendapat bahwa
“instrumen dalam penelitian kualitatif dapat berupa tes, pedoman wawancara,
pedoman observasi dan kuesioner. Dalam penelitian kualitatif, yang menjadi
instrumen kunci atau alat penelitian adalah peneliti itu sendiri.”Dari beberapa
pendapat para ahli di atas, dapat disimpulkan bahwa instrumen penelitian adalah
alat bantu yang digunakan oleh peneliti sebagai pedoman dan penentuan
ukuran-ukuran dalam memperoleh data.Alat bantu tambahan yang digunakan dalam
penelitian ini adalah pedoman wawancara dan voice
recorder atau perekam suara.
Partisipasi masyarakat, peneliti akan mempertanyakan sejauh
mana partisipasi masyarakat dalam pengelolaan sampah dikota mataram, peneliti
akan mempertanyakan apakah warga ikut berpartisipasi dalam mengelola sampah
baik secara langsung maupun tidak langsung, mempertanyakan apakah warga telah
memiliki kesadaran dalam ikut berpartisipasi dalam menjaga lingkungan dengan
ikut partisipasi dalam pengelolaan sampah apakah warga telah memiliki kesadaran
dan kemauan dan mengetahui larangan dan kewajiban dalam pengelolaan sampah
secara langsung dan tidak langsung.
3.6
Teknik Pengumpulan data
Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini
adalah studi dokumentasi/literatur, observasi dan wawancara
3.5.1 Studi Literature/ Dokumentasi
Nazir (2009 )menyimpulkan studi literatur sebagai salah satu
cara untuk mengetahui sejauh mana berkembangnya ilmu yang berhubungan dengan
penelitian, sampai ke mana terdapat terdapat kesimpulan dan degeneralisasi yang
telah pernah dibuat, sehingga situasi yang diperlukan dapat
diperoleh.
Sementara Soehartono (2004: 70) menyatakan bahwa “studi
dokumentasi merupakan teknik pengumpulan data yang tidak langsung ditujukan
kepada subyek penelitian melainkan dari dokumen baik resmi maupun tidak resmi
seperti buku harian, surat pribadi, laporan, notulen rapat, catatan kasus dalam
pekerjaan sosial, dan dokumen lainnya.”Dalam penelitian ini, data yang akan
dicari dengan teknik dokumentasi adalah statistik dan keterangan tentang lokasi
penelitian; peraturan daerah, peraturan kota, proposal atau surat tentang
pengelolaan sampah
3.5.2 Observasi
Sutrisno Hadi (1986: 145)
mengemukakan bahwa, observasi merupakan suatu proses yang kompleks, suatu
proses yang tersusun dari berbagai proses biologis dan phsikologis.Observasi
Yang Akan Digunakan Peneliti Adalah observasi non partisipati artinya peneliti
tidak terjun langsung dalam pengelolaan sampah di Kota Mataram yang di lakukan
oleh warga.
3.5.3 Wawancara
Waluyo (2008: 57), mengemukakah
bahwa “wawancara adalah kegiatan yang bertatap langsung dengan responden untuk
menanyakan perihal pribadi responden, fakta-fakta yang dan dan pendapat,
pandangan maupun saran-saran dari responden.”Jenis wawancara yang digunakan
adalah wawancara terstruktur dengan format yang disesuaikan dengan masalah yang
akan diteliti.Sedangkan yang menjadi informan atau subyek penelitian saat
wawancara adalah beberapa warga, pengurus banjar, Ketua
RT.Kepala Lingkungan yang berada di Kelurahan pagesangan serta Lurah pagesangan
dan Kepala Seksi di Dinas Kebersihan Kota Mataram.
3.6 Teknik Analisa Data
Analisis data dalam suatu penelitian
bertujuan untuk menyempitkan dan membatasi penemuan-penemuan sehingga menjadi
suatu data yang teratur, serta tersusun dan lebih berarti (Marzuki, 2001:30), Metode
deskriptif kualitatif digunakan untuk menguraikan atau menggambarkan dengan
kata – kata atau kalimat – kalimat bukan dengan angka. Permasalahan yang
berhubungan dengan partisipasi masyarakat dalam pengelolaan sampah pad kota Mataram.
Data – data yang diperoleh dari
hasil dokumentasi dan komunikasi (interview) kemudian di kembangkan, diperbaiki
dan disajikan secara sistematis dengan menggunakan teknik deskrptif kualitatif
(Bogdan Dalam Sugiyono 2012: 244).
3.7 Cara Penyajian Hasil Analisis
Data
Pengolahan data dilakukan secara manual dan disajikan dalam
bentuk hasil wawancara dan observasi lapangan untuk mengetahui tingkat
pemahaman kesadaran masyarakat untuk berpartisipasi dalam pengelolaan sampah di
Kota Mataram.
DAFTAR PUSTAKA
Alfiandra. 2009. “Kajian Partisipasi Masyarakat Yang Melakukan
Pengelolaan Persampahan 3R Di Kelurahan Ngaliyan dan Kalipancur Kota Semarang
“ (ID): Universitas Diponegoro. Diunduh 2 april 2015.
Tersedia
pada:http://eprints.undip.ac.id/24266/1/ALFIANDRA.pdf. v
Acitya,
Serat. 2006. “Peran Serta Masyarakat
Dalam Pengelolaan Sampah Rumah Tangga (Studi Kasus Di Sampangan & Jomblang,
Kota Semarang). Jurnal Ilmiah UNTAG Semarang. Diunduh 2 april 2015.
Tersedia di www.google.com jurnal partisipasi masyarakat dalam pengelolaan sampah.pdf.
vol 1 no 1.
Dantes, Nyoman. 2012. Metode
penelitian. Yogyakarta: Andi
Iswara, I Nyoman Putra. ,2013. Skripsi “Peran
Serta Warga dalam Pengelolaan Sampah
Ditinjau dari Ajaran Tri Hita Karana dan Undang-undang no. 18 Tahun 2008
tentang Pengelolaan Sampah di Kelurahan Cakranegara Barat, Kota Mataram”. Skripsi Sekolah
Tinggi Agama Hindu Negeri Gde Pudja Mataram: Mataram.
Riduan, Akhmad. 2012. Partisipasi Masyarakat Dalam Pengelolaan
Sampah Di Bantaran Sungai Kali Nagara Kabupaten Hulu Sungai Utara. Jurnal
Socioscientia Kopertis wilayah xi Kalimantan.
Diunduh 03 april 2015 tersedia di www.google.com
partisipasi masyarakat dalam pengelolaan sampah Akhmad Riduan editan.pdf vol 4
no 2.
Sucipto, Cecep Dani. 2012. Teknologi Pengolahan Sampah. Yogyakarta:
Goysen Publishing
Sugiyono . 2014. Metode
Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R & D. Bandung: Alfabeta
Tim penulis,
20115.Buku pedoman penulisan skripsi FKIP
UM. Mataram, Mataram, FKIP UM Mataram.
Wintoko, Bambang, Keuntungan Ganda Lingkungan Bersih Dan Kemapanan Financial Melaui Abnk
Sampah. Yogyakarta, cetakan pertama: Pustaka baru press
Tidak ada komentar:
Posting Komentar